Catatan Bedah Buku Biografi serta Penyerahan Arsip dan Lukisan Lanny Gumulya kepada ANRI

Catatan Bedah Buku Biografi serta Penyerahan Arsip dan Lukisan Lanny Gumulya kepada ANRI

“Lanny, terima kasih. Kamu telah mempersunting bunga melati di sanggul Ibu Pertiwi”. — Ir. Soekarno

INSPIRASI-ID, Jakarta — Nama Lanny Gumulya mungkin tidak banyak orang yang tahu, namun apresiasi dari Presiden Soekarno menunjukkan sumbangsih yang diberikan Lanny kepada bangsa dan negaranya. Lanny Gumulya merupakan atlet loncat indah perempuan pertama yang berhasil meraih medali emas dari cabang olahraga akuatik loncat indah dalam laga Asian Games IV, 1962 di Jakarta. Lagu Indonesia Raya yang bergema mengobarkan semangat nasionalisme untuk berjuang meraih prestasi bagi para atlet dari Republik Indonesia yang baru berusia 17 tahun kala itu.   

Apa hal paling berharga yang bisa diwariskan oleh seseorang? Sepeninggal ibunda tercinta Lanny Gumulya pada akhir Maret 2024 lalu, Melanie Kartadinata bermaksud melakukan sesuatu sebagai bentuk apresiasi dan rasa hormat kepada ibunya dan juga kepada Presiden Soekarno sebagai salah satu Pendiri Bangsa Indonesia. Gayung bersambut. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyambut baik. Terwujud dalam kegiatan “Bedah Buku Biografi dan Penyerahan Arsip dan Lukisan Lanny Gumulya” bertempat di ANRI Jakarta, 28 Juni 2024.

Sosok Pejuang Tangguh

Melanie mengatakan, untaian kata-kata indah Bung Karno kepada ibunya itulah yang memberi semangat untuk menuliskan kisah hidup dan perjuangan ibunya menjadi memori indah yang tidak akan lekang oleh waktu berupa buku biografi. Buku karyanya berjudul Lanny Gumulya: Kisah Gadis Kolam yang Terbang Mengibarkan Sang Merah Putih ini lahir sebagai ucapan terima kasih dan rasa cintanya sebagai anak dalam rangka perayaan ulang tahun ke-78 sang Ibu pada 13 November 2022 lalu.

“Saya meyakini kita semua sepakat bahwa kharisma dan spirit Bung Karno adalah salah satu tombak dimana beliau tidak hanya sekadar membawa Indonesia merdeka, tapi juga mampu membawa Indonesia menjadi berlian dan dihargai di mata dunia setelahnya, terutama panggung olahraga saat Ibu saya menjadi salah satu peserta yang berhasil memberi medali emas untuk Indonesia, yang bahkan sampai saat ini belum tergantikan,” tutur Melanie dalam pengantar bedah bukunya.

Dalam bedah buku ini, Amin Rahayu selaku Pamong Budaya Ahli Sejarah Indonesia menyatakan kagum terhadap sosok Lanny Gumulya yang penuh daya juang. “Bu Lanny berhasil menyumbangkan 1 medali emas 3 meter, dan medali perunggu di papan tinggi 10 meter.Ciri-ciri orang berhasil harus berani berjuang, tekun, ulet, dan ikut kompetisi,” ujarnya.

Amin juga memberikan apresiasi kepada keluarga Ibu Lanny yang telah berjerih lelah menerbitkan buku. “Saya merasakan betapa capeknya menulis buku. Selain waktu, juga urusan dengan penerbit, dan lain-lain,” ungkapnya.

Pastor Eddy Chang dari Fresh Generation Community Church (FGCC) Kuala Lumpur memuji Lanny Gumulya sebagai sosok yang penuh semangat dan selalu mengingatkan agar menjaga kesatuan dan kerukunan dalam keluarga. “Sejak masa pandemi Covid-19, Bu Lanny selalu ikut doa pagi kelompok doa Clubhouse via zoom. Beliau pribadi yang penuh semangat. Beliau juga selalu menekankan kesatuan di dalam keluarga, supaya  akur, karena ada berkat di dalam kerukunan dan kesatuan,” tuturnya.

Pastur Eddy lantas mengutip Kitab Mazmur pasal 133 yang menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya atas saudara yang rukun. Ia menyambut gembira kegiatan dan dan mengaku baru pada kesempatan ini bertemu langsung dengan Melanie.

Sementara itu, Risty Damayanti sebagai moderator juga mengapresiasi warisan yang ditinggalkan oleh sosok Lanny Gumulya. “Apalah arti sebuah nama, kata William Shakespiere. Tetapi, nama itu menjadi berarti karena meninggalkan legacy. Lanny Gumulya menjadi perempuan Indonesia pertama yang mampu mengumandangkan lagu Indonesia Raya di panggung Asian Games 1962.

Dukungan kepada ANRI

Seusai bedah buku, Melanie menyerahkan arsip berupa dokumentasi foto-foto dan piagam penghargaan yang diperoleh Lanny Gumulya saat menerima medali emas yang dipersembahkan kepada bangsa Indonesia dalam ajang olahraga Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta.

Pada kesempatan ini, Melanie juga menyerahkan potret diri Lanny Gumulya yang dilukis oleh maestro Basuki Abdullah sebagai apresiasi atas prestasi Lanny. Menurut Melanie, lukisan itu dibuat pada saat ibunya berusia 18 tahun. Lukisan diri Lanny Gumulya diserahkan kepada negara melalui ANRI. “Kami serahkan semua arsip, foto-foto asli dan lukisan Lanny Gumulya agar bisa digunakan sebaik-baiknya, dan bisa dinikmati para pengunjung ANRI secara langsung,” kata Melanie.

Melanie mengungkapkan, kegiatan bedah buku, penyerahan arsip dan lukisan kepada negara ini sebagai bentuk dukungan kepada ANRI dalam upaya mengumpulkan arsip-arsip bersejarah. Ia berharap langkahnya ini bisa dijadikan spirit bagi pelaku sejarah lainnya untuk melapangkan hati memberikan arsip bersejarah kepada negara. Dengan demikian kisah sejarah sebuah bangsa dapat dilihat langsung oleh masyarakat melalui arsip; sekaligus memberi semangat kepada masyarakat, khususnya anak-anak muda agar tidak lelah melakukan yang terbaik melalui prestasi, baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama dan bangsa.

Kegiatan yang berlangsung secara terbatas ini dihadiri oleh kepala ANRI, pejabat ANRI terkait, pejabat museum Basuki Abdullah, undangan ANRI, keluarga dan sahabat Melanie Kartadinata yang aktif dalam kelompok doa Clubhouse. Lanny Gumulya memiliki enam anak dan 13 cucu. Selain Melanie, anak-anak lainnya tinggal di luar negeri. Mereka semua berkesempatan hadir dalam acara ini dan turut bersyukur. (Gie)

Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Menu

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Please note

This is a widgetized sidebar area and you can place any widget here, as you would with the classic WordPress sidebar.