INSPIRASI-ID, Yogyakarta — Sebagai bentuk kepedulian sosial dan upaya membangkitkan kembali gairah para pelukis Yogyakarta pasca pandemi, Marriot Hotel dan The RAH Gallery, London menggelar Art Exhibition di lobi hotel Mariott Yogyakrta (18-24/04/2023).
General Manager Hotel Mariott, Mey Nurnaningsih mengungkapkan bahwa kegiatan ini hasil kerja sama dengan Rahul Shamshad, seorang pemerhati seni, khususnya lukisan. Rahul juga pemilik The RAH Gallery di London. Setelah mengunjungi Yogyakarta, Rahul menaruh perhatian khusus kepada seniman lokal yang sebenarnya layak ditampilkan. “Rahul Shamshad sempat berdiskusi dan mengajak kerja sama dengan kami untuk membantu seniman Yogyakarta agar bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas,” ungkapnya.
Mey Nurnaningsih menjelaskan bahwa pada pameran kali ini terdapat 14 lukisan dari 12 seniman lokal. Bahkan di antara mereka ada yang memiliki keterbatasan fisik, tetapi dia memiliki taleta yang luar biasa. Kegiatan ini tidak memiliki tujuan untuk profit. Apa pun yang laku terjual sepenuhnya akan diberikan langsung kepada senimannya.

“Ini menjadi bagian program CSR Hotel Mariott. Kami menyediakan tempatnya. Sementara, Rahul Shamshad menyediakan semua peralatan yang dibutuhkan. Kami tidak memotong sepeserpun, semua diberikan kepda seniman. Ini menjadi upaya kami dalam membantu para seniman setelah pandemi. Harapanya setelah ekonomi sudah mulai bangkit, lukisan mereka bisa laku terjual. Setelah selesai acara pameran ini, uangnya kami berikan kepada mereka,” tutur Mey.
Dukungan untuk Seniman
Kedatangan Rahul Shamshad ke Yogyakarta awalnya hanya ingin bertemu dengan para seniman yang terkenal dan beberapa pelukis di Malioboro. “Awalnya hanya 6 hari di Yogyakarta, tetapi setelah melihat hasil karya mereka, saya memutuskan untuk membuat acara bagi mereka terlebih dahulu sebelum kembali ke London. Beberapa seniman ini merupakan pelukis di Malioboro. Sementara, yang lainnya sudah cukup terkenal,” ungkap Rahul.
Sebagai pemilik The RAH Gallery sangat mungkin baginya untuk membeli dan menjual kembali. Namun, itu tidak akan memberi dampak yang berarti bagi para seniman muda Indoneisa. “Di Indonesia banyak sekali karya-karya yang bermunculan dan ada hingga saat ini. Selain itu, karya seni lukis di Indonesia memiliki kekhasan dan berbeda dengan yang ada di London maupun Eropa pada umumnya. Bisa dibilang lukisan seniman Indonesia memiliki makna yang lebih mendalam dan sebagainya. Jadi, sebagai karya seni imajinatifnya lebih dalam untuk dirasakan. Di Yogyakarta sendiri banyak sekali komunitas yang saling mendukung satu sama lain,” tutur Rahul.
Lebih lanjut, Rahul Shamshad melihat bahwa seniman muda di Yogyakarta sudah sangat profesional. Karya seni mereka sudah sangat membanggakan. Bahkan karya seni di Indonesia berbeda dengan yang di luar negeri. “Jika di London seni banyak mereka dibangun dan dipelajari dari sekolah, buku, dan sebagainya. Berbeda dengan seniman di Indonesia yang bayak dipengaruhi oleh lingkungan, seperti pegunungan, lingkungan yang asri, dan sebagainya. Selain itu, budaya, seperti kerajaan Yogyakarta juga turut memengaruhi. Inilah yang membuat hasil karya seni mereka sangat berbeda dengan negara lainnya,” jelasnya.
Standar Tinggi
Rahul Shamshad juga mengakui bahwa standar seni di Indonesia sangat tinggi, jika dibandingkan negara lain. Banyak pelukis Indonesia yang sangat terkenal di dunia internasional, seperti Roby Dwi Antono, Fandi Angga Saputra, Laksamana Rio dan lainnya. Karya mereka sangat bagus dan memiliki standar yang tinggi hingga bisa menghasilkan ratusan juta bahkan miliaran rupiah.
“Oleh karena itu, saya ingin bisa membuat para pelukis muda di Indonesia memiliki standar tinggi dan dikenal oleh dunia internasional seperti para pendahulunya. Saya pernah bekerja sama dengan pelukis Heru Priyono. Saya yang pertama kali diperkenalkan dengan lukisannya. Kemudian saya videokan keadaan rumahnya, bagaimana lingkungan dan sebagainya. Akhirnya saya membantunya sampai bisa melakukan pameran di Jepang dan negara lainnya. Sekarang ia sudah menjadi seniman terkenal. Saya harap ini bisa terjadi juga kepada senima muda saat ini.”
Bagi Rahul Shamshad banyak sekali galeri, baik offline maupun online yang bisa memajang lukisan mereka, tetapi semua selalu ada biaya yang harus dikeluarkan oleh para seniman. “Oleh karena itu, saya membuka sebuah platform untuk semua kalangan dan mereka bisa dipajang lukisan mereka. Tujuannya untuk mensuport para seniman yang ada di sini,” pungkasnya.

Sementara itu, Adita Satya Dharma salah satu seniman yang hasil karyanya turut dipamerkan di sini mengungkapkan rasa bangganya dengan acara sperti ini. Hasil karyanya memiliki makna terkait sampah palstik terhadap lingkungan. “Lukisan ini bernarasi tentang dampak dan bahayanya mikroplastik yang masuk melalui tumbuhan dan binatang kemudian dikonsumsi oleh manusia,” jelasnya.
Seniman lainnya, Alex banyak menuangkan hal humanis pada lukisannya. Salah satu lukisannya yang laku terjual berbicara tentang seseorang yang menyediri di tengah keramaian seperti coffee shop. “Orang yang melakukan kegiatan seperti itu sesunggunya karena dia belum mengenal siapa dirinya,” ungkapnya. (Naf)